Apresiasi terhadap batik meningkat, tapi itu gara-gara ada persoalan klaim di Malaysia, sehingga hal tersebut menggugah rasa kebangsaan kita. Kalau suasananya dalam keadaan biasa-biasa, tidak ada yang bereaksi. Sekali-sekali boleh lah kita menjadi bangsa yang aktif, tapi jangan selalu menjadi bangsa yang reaktif. Banyak dari kita yang tidak memikirkan Indonesia.
Kita baru tersentak akan nilai kekayaan batik ketika negara lain mengakui bahwa batik adalah produk kebudayaan mereka. Karena klaim itu, kita baru membela batik habis-habisan. Kita baru mau memakai batik dalam aktivitas sehari-hari agar terlihat bahwa batik adalah milik kita. Padahal seharusnya, jika memang mencintai batik dan ingin melestarikannya, sejak dulu kita sudah menjadikannya busana sehari-hari. Dengan demikian, batik memang melekat sebagai bagian dari budaya kita.
Dalam hal mencintai produk
kebudayaan dalam negeri, orang Indonesia juga kerap melihatnya dari kacamata
orang Barat. Misalnya saja, karena batik belel dari kain lawasan kerap terlihat
dipakai oleh turis asing di Bali, orang Indonesia pun ikut-ikutan memakai batik
belel. Padahal, tadinya kita menganggap batik belel itu tidak layak dipakai,
karena dibuat dari kain bekas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar