Kamis, 27 Desember 2012

Kebudayaan Pengemis, Pengamen dan Anak Jalanan

Hampir di setiap sudut bumi yang bulat ini, anda bisa bertemu dengan pengemis, pengamen, anak jalanan, dan penipu. Saya pernah mengenal sedikit diantara anak jalanan yang multitalent, terlihat dari profesinya yaitu sebagai pengemis sekaligus pengamen, kadang sesekali main tipu-tipu. Anda tahu dimana letak sudut bumi yang bulat itu?
Saya perempuan biasa yang diberi anugerah berupa perasaan, saya sering merasa iba dengan mereka.  Seorang anak lelaki bertubuh kurus kering mengamen di jalanan, seorang anak perempuan kecil yang seharusnya dikuncir dua berpita tapi berambut gimbal di perempatan, seorang nenek renta yang kehilangan masa bahagia di sisa umurnya. Mereka membuat saya selalu jatuh iba untuk kemudian merogoh dompet yang tak selalu berisi ini.


Itu dulu. Waktu saya masih lugu, belum pernah melihat fakta, yang otomatis tidak melahirkan argumen apapun. Sampai pada suatu waktu saya berbelanja di sebuah minimarket pukul 10 malam. Suasana sudah cukup lengang. Saya bebas menggeratak barang-barang yang saya perlukan tanpa ada keramaian dan antrian. Saat di kasir, saya melihat sesosok pria setengah baya yang sangat familiar wajahnya, di kasir satunya. Dia menukarkan uang receh hasil “keringat”nya ke minimarket itu, dengan jumlah cukup fantastis untuk ukuran seorang anak kos seperti saya. Mmm.. Bisa lah buat makan seminggu di rumah makan yang harga segelas es tehnya 5ribu. Dan yang paling membuat saya jengkel bukan kepalang adalah melihat fakta bahwa dia dapat berkomunikasi dengan amat lancar, sangat berbeda dengan keseharian saya temui, dia pura-pura bisu. Saya pastikan tidak salah lihat dan tidak salah orang.
Kemudian muncul fakta-fakta lain yang membuat hati saya mulai kebal melihat mereka.
Dulu saya pikir kebijakan beberapa pemda tentang pelarangan pemberian uang kepada mereka itu terlalu mengada-ada, tapi ternyata benar adanya. Kemudian disusul himbauan komnas anak untuk tidak memberikan uang kepada anjal, saya aminkan. Menurut saya, memang benar, memberi uang bukan cara yang tepat untuk mengasihani mereka, karena hal itu justru membuat mereka merasa nyaman hidup di jalanan yang bisa mengumpulkan uang dengan mudah.
Kemudian ada lagi satu kelompok yang membuat saya ngedumel. Kelompok penipu. Mereka menggunakan berbaagai macam modus untuk mengelabuhi korbannya. Intinya mereka mengemis, tapi dengan cara “agak” cantik. Yang masuk kelompok ini biasanya yang bawa-bawa kotak amal, minta sumbangan buat panti asuhan antah berantah, membagikan abate, melakukan fogging, atau jualan stiker, sasaran mereka rumah kos. Rasanya jengaaaaah buanget… Kok ga kapok-kapok ya mereka. -,-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar