Padahal penyebab perkelahian pelajar tidaklah
sesederhana itu. Terutama di kota besar, masalahnya sedemikian kompleks,
meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan dalam
arti luas (kurikulum yang padat misalnya), serta kebijakan publik lainnya
seperti angkutan umum dan tata kota.
Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan
pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan
remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi
yaitu situasional dan sistematik. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi
karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu
biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat.
Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu
berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma
dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi.
Sebagai anggota, mereka bangga kalau dapat melakukan apa yang diharapkan oleh
kelompoknya
Minggu, 23 Desember 2012
PANDANGAN UMUM TERHADAP PENYEBAB PERKELAHIAN PELAJAR
Sering dituduhkan, pelajar yang berkelahi berasal
dari sekolah kejuruan, berasal dari keluarga dengan ekonomi yang lemah. Data di
Jakarta tidak mendukung hal ini. Dari 275 sekolah yang sering terlibat perkelahian,
77 di antaranya adalah sekolah menengah umum. Begitu juga dari tingkat
ekonominya, yang menunjukkan ada sebagian pelajar yang sering berkelahi berasal
dari keluarga mampu secara ekonomi. Tuduhan lain juga sering dialamatkan ke
sekolah yang dirasa kurang memberikan pendidikan agama dan moral yang baik.
Begitu juga pada keluarga yang dikatakan kurang harmonis dan sering tidak
berada di rumah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar