BUDAYA CLUBBING DI INDONESIA DIKALANGAN MAHASISWA

Disusun Oleh:
NAMA KELOMPOK 4
Aulia Malahati( 18212123)
Faris Maulana(12212781)
Kurnia Anggraini(14212142)
Nasrulloh(15212250)
Fransico tisnawibiseno P(13212029)
NAMA KELOMPOK 4
Aulia Malahati( 18212123)
Faris Maulana(12212781)
Kurnia Anggraini(14212142)
Nasrulloh(15212250)
Fransico tisnawibiseno P(13212029)
KELAS 3EA06
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi
Allah Subhânahû wa Ta`âlâ yang
telah memberikan karunia dan rahmat-Nya kepada kami, hingga kami dapat
menyelesaikan penyusunan Makalah dengan judul “BUDAYA
CLUBBING DI INDONESIA DIKALANGAN MAHASISWA”.
Karya sederhana ini kami susun dalam rangka memenuhi tugas softskill mata kuliah
perilaku konsumen.
kami menyadari,
bahwa karya tulis ini tidak dapat diselesaikan tanpa dukungan dan bantuan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, kami berterima kasih kepada semua pihak yang
memberikan kontribusi dan dukungan dalam penyusunan makalah ini. Pada
kesempatan ini, kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya dan penghargaan
setinggi-tingginya kepada:
1.MUJIYANA, SE,
MM selaku dosen perilaku konsumen yang telah memberikan masukan
dan bimbingan selama pembuatan makalah ini.
dan bimbingan selama pembuatan makalah ini.
Tak ada yang
sempurna di dunia ini. Demikian pula dengan penulisan makalah ini. Kritik dan
saran sangatlah penulis harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
siapa pun yang membacanya.
Depok,
30 November 2014
DAFTAR
ISI
DAFTAR ISI ........................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................
1.1. Latar Belakang ..............................................................................................................
1.2. Rumusan Masalah .........................................................................................................
1.3. Tujuan Penelitian ...........................................................................................................
1.4. .Pembatasan Masalah ....................................................................................................
1.5. Kegunaan Penelitian ......................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................................
2.1. Pengertian Clubbing ......................................................................................................
2.2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Clubbing ..............................................................
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan .....................................................................................................................
3.2. Saran ...............................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................
Bab
I
Pendahuluan
1.1 Latar BelakangPendahuluan
Indonesia adalah negara yang mempunyai banyak
kebudayaan. Kebudayaan-kebudayaan itu merupakan aset negara. Tetapi di ero
globalisasi sekarang ini, banyak sekali budaya asing yang masuk ke Indonesia,
salah satunya yaitu budaya clubbing. Clubbing sudah sangat
identik dengan kehidupan masyarakat metropolitan. Tidak hanya menjadi bagian
dari gaya hidup, tapi juga menjadi sarana bersosialisasi, bahkan melakukan lobi
bisnis. Dulu clubbing selalu diasosiasikan dengan musik menghentak
yang dapat membuat orang larut dalam suasana. Seiring perkembangan zaman, clubbing
mengalami banyak pergeseran karena tidak semua orang suka musik semacam itu.
Pada hakikatnya suasana yang hingar bingar bukan lagi daya tarik utama.
Mayoritas para clubbers adalah para generasi muda yang memiliki
status sosio-ekonomi yang cukup baik. Ini terlihat dari kebutuhan-kebutuhan
material yang menopang aktivitas clubbing yang jelas membutuhkan dana
ekstra. Mulai dari pemilihan pakaian yang bermerek, properti, kendaraan, hingga
perangkat clubbing itu sendiri.
Hal-hal
yang telah di uraikan di atas menurut penulis sangat menarik sehingga penulis
akan mengangkat makalah “BUDAYA CLUBBING DI INDONESIA DIKALANGAN MAHASISWA” sebagai tugas softskill
mata kuliah perilaku konsumen.
1.2 Rumusan
Masalah
Dengan
menimbang latar belakang masalah yang telah penulis kemukakan, maka penulis
mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:
- Apa itu clubbing ?
- Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi clubbing ?
1.3 Tujuan
Penelitian
Adapun
tujuan dari penelitian ini adalah:
- Mengetahui pengertian clubbing
- Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi clubbing
1.4
Pembatasan Masalah
Dalam
makalah ini penulis hanya menanggapi budaya clubbing di Indonesia.
1.5 Kegunaan
Penelitian
- Memberikan kesempatan kepada penulis untuk merealisasikan pengetahuannya tentang clubbing khususnya di Indonesia.
- Memberikan pemahaman tentang dunia clubbing kepada orang awam yang tidak memiliki pengetahuan sama sekali tentang itu.
Bab II
Pembahasan
Pembahasan
2.1
Pengertian Clubbing
Clubbing, sebuah
kata kerja yang berasal dari kata Club, yang berarti pergi ke
klub-klub pada akhir pekan untuk mendengarkan musik (biasanya bukan musik
hidup) di akhir pekan untuk melepaskan kepenatan dan semua beban ritual
sehari-hari. Di Indonesia, clubbing sering juga disebut dugem,
dunia gemerlap, karena tidak lepas dari kilatan lampu disko yang gemerlap dan
dentuman music techno yang dimainkan oleh para DJ
handal yang terkadang datang dari luar negeri.
Clubbing tidaklah
merupakan hal yang meresahkan sampai kita mendengar istilah-istilah “tripping
100 jam”,“pump up your sex with ecstasy”, sampai “get the best
your orgasm with ecstasy”. Kita tidak akan membicarakan para junkie
atau pecandu putaw yang nyolong dan malak karena gak punya duit saat sakaw
(karena secara fisik ecstasytidaklah bersifat adiksi) atau para
pelacur jalanan yang terpaksa melacur karena kebutuhan ekonomi. Yang akan kita
bahas adalah para eksekutif yang secara materi tidak pernah kekurang tapi
selalu menghabiskan akhir pekan mulai dari jumat malam sampai senin pagi di
lantai diskotik, juga para wanita mulai dari ibu-ibu sampai anak sekolah yang
asyik gedek-gedek dan dengan santainya melakukan one night stand
(aktifitas seks sekali pakai dan terlupakan).
Klub-klub malam menjadi ajang narkoba, seks bebas dan
pelarian sepanjang malam di akhir pekan. Sarang hedonisme dan pesta seks
bercahaya neon (atau bahkan tanpa cahaya sama sekalil!). Sebuah tempat di mana
golongan kaya bergesekan dengan kalangan yang lebih merakyat. Bagian
terselubung dari sebuah kota yang korup dan terus berhentak, serta
memiliki pengaruh yang melampaui batas-batas Indonesia.
Kultur disko/clubbing lahir pada akhir dekade
80-an di Eropa. Kemajuan dalam teknologi suara sintetis dan narkoba melahirkan
music techno/house dan budaya ekstasi. Klub-klub di Ibiza, Italia
dan London menjadi surga berdenyut musik elektronika. Tahun 1988
dijuluki summer of love kedua di London. Jika dekade 60-an
memiliki psychedelic era dan acid rock, yang
memunculkan mariyuana dan LSD sebagai primadonanya, serta punk
rock pada dekade 70-an dengan heroin sebagai makanan sehari-hari, maka
terjadi pergolakan baru dalam kultur kawula muda pada dekade 80-an.
Sebuah scenebaru muncul dengan fondasi musik elektronik, serta
membuat takut para politikus dan ortang tua. Pesta dansa ilegal merebak dan
ekstasi menjadi narkoba pilihan di dunia baru ini. Scene ini mulai
keluar dari bawah tanah pada dekade 90-an. Seiring dengan bertambahnya
popularitas, musik ini juga berevolusi – dari house ke trance,
lalu hardcore, jungle,progressive dan drum
& bass.
Budaya clubbing baru ini mulai mewabah ke
seluruh dunia. Amerika Serikat tampaknya kurang menyambut musik ini dan tetap
setia dengan band rock kuno, grunge, rap, R&B,
serta hip-hop. Namun musik house serasa menemukan rumah
baru di Indonesia. Kecenderungan masyarakat Indonesia ke arah hedonisme
komunal, serta ikatan batin dengan Belanda berkat masa penjajahan (yang
melahirkan hubungan dengan pusat produksi obat terlarang di Amsterdam) menjadi
penyebabnya. Sekitar tahun 1995, muncullah summer of love ala
Batavia. Negara ini dibanjiri oleh pil-pil setan, dan klub-klub yang sebelumnya
lebih kalem dipenuhi oleh orang-orang teler dan kegirangan, yang menikmati
musik baru ini. Semuanya ini terjadi sebelum krismon, di mana Soeharto masih
berkuasa dan Indonesia masih merupakan “Macan Asia”. Tempat klub-klub ini
menghasilkan rupiah yang berlimpah, dan tempat-tempat hiburan yang lebih mewah
dibangun.
Pada suatu ketika, produser musik dangdut menciptakan
musik house Asia versi mereka sendiri, yang cenderung lebih nge-pop.
Musik ini lebih menyerupai musik techno gadungan yang menyedihkan, namun dapat
disimak di banyak klub-klub terkemuka di Jakarta saat ini. Di sini, para ABG
yang kenyang ekstasi bergoyang diiringi musik anak-anak alahouse dangdut
yang bertempo terlalu tinggi. Tapi musik techno dan trance
Eropa yang bermutu masih dapat ditemukan di berbagai klub di seputar kota.
2.2
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Clubbing
Kaum clubbers secara logis dalam konteks ini
adalah kaum plagiator yang mengimpor secara mentah-mentah gaya hidup dunia
barat kedalam kehidupan sosial mereka. Di kalangan para clubbers, ada
tiga narasi yang selalu melandasi cara pandang dan perilakunya, yakni gaul, funcy,
dan happy dimana kesemuanya berlabuh pada satu narasi besar (grand naration)
yakni gensi. Tidak jelas siapa yang mulai melontarkan dan mempopulerkan istilah
tersebut, disini Perdana (2004) dalam bukunya yang berjudul “Dugem : ekspresi
cinta, seks, dan jati diri” menjelaskan wujud ekspresi dari ketiga narasi
tersebut. Hal tersebut merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi generasi muda
melakukan clubbing.
Adapun
faktor-faktornya adalah:
A. “Gaul”, istilah “gaul” berasal dari kata baku “bergaul” atau “pergaulan” yaitu sebuah sistem sosial yang terbentuk melalui interaksi, komunikasi dan kontak sosial yang melibatkan lebih dari satu orang. Akan tetapi dalam komunitas clubbing, istilah “gaul” bukan lagi menjadi “media sosialisasi” untuk melengkapi fitrah kemanusiaannya, melainkan kebanyakan telah menjadi “ajang pelampiasan hawa nafsu”.
Kebanyakan bentuk “gaul” ini justru menjadi pintu
gerbang bagi lahirnya generasi-generasi penganut seks bebas, pecandu narkoba,
hingga pelacuran dan penjahat sosial.
B. Funcy, istilah funcy secara aksiologis tanpa memperdebatkan wacana epitemologisnya, istilah funcy selalu berlekatan dengan istilah “gaul”. Pemaknaan funcy selalu dipertautkan dengan bentuk-bentuk eksperimentasi yang tanpa landasan argumentasi yang jelas, sekedar mencari sensasi dan pelampiasan emosi-emosi jiwa yang tidak terkendali. Ini bisa dilihat dari hasil eksperimentasi mereka dalam hal kostum, kendaraan, fisik dan gaya hidup.
C. Happy, istilah happy berasal dari bahasa inggris yang berarti bahagia, selalu bahagia. Dengan “bergaul”, berinteraksi dan membaur dalam warna komunitas “bergaul”nya, kaum remaja merasa menemukan jati diri yang tepat dengan selera dan jiwa mudanya daripada apa yang didapatkan dari lingkungan keluarga. Mereka merasa menemukan kebahagiaan sejati disini yaitu bebas berbuat apa saja, banyak teman, termasuk bebas menyalurkan gelora libido seksualnya. Namun kebahagiaan yang mereka dapatkan adalah kebahagiaan semu.
Clubbing merupakan
salah satu gaya hidup di zaman sekarang yang merupakan hasil adopsi dari
negara-negara barat. Seseorang melakukan clubbing ada kemungkinan besar
karena terinspirasi akan kehidupan para selebritis, orang-orang terkenal,
orang-orang yang bekerja di bidang intertainmen dalam memperoleh kesenangan. Clubbing
dipandang oleh individu sebagai gaya hidup yang modern. Piliang (2006)
menyatakan bahwa individu dalam mengikuti gaya hidup modern dipengaruhi oleh
faktor intern dan faktor ekstern.
Faktor intern merupakan faktor yang berasal dari dalam
diri individu berhubungan dengan minat dan dorongan seseorang untuk melakukan
kegiatan yang diinginkan sesuai dengan perasaan hati. Selain itu, faktor intern
individu melakukan clubbing dipengaruhi sikap. Sikap lebih cenderung
berhubungan dengan kepribadian individu dalam menentukan suatu fenomena yang
ditemui dalam kehidupannya (Piliang, 2006).Dilanjutkan oleh Piliang (2006)
bahwa faktor ektern merupakan faktor di luar individu yang dapat mempengaruhi
sikap dan perilaku individu dalam kehidupan sehari-hari. Faktor ekstern ini dibedakan
atas faktor keluarga dan faktor lingkungan sosial. Faktor lingkungan keluarga
yang kurang harmonis berdampak pada anggota keluarga untuk mencari kesenangan
di luar rumah dan clubbing merupakan satu pilihan untuk mencari
kesenangan tersebut.
Adapun faktor lingkungan sosial merupakan faktor
sosial individu dalam kegiatannya sehari-hari. Individu yang memiliki sifat
tidak tetap pendiriannya akan mudah terpengaruh oleh keadaan lingkungan sosial,
di mana individu melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Apabila lingkungan
sosial cenderunng dalam kehidupan clubbing, maka ada kemungkinan besar
individu tersebut juga masuk dalam lingkungan yang menyenangi gaya hidup clubbing.
Bab III
Penutup
Penutup
3.1 Kesimpulan
Dalam makalah ini penulis mengambil kesimpulan dari
pembahasan di atas yaitu;
- Clubbing merupakan istilah prokem khas anak muda yang berarti suatu dunia malam yang bernuansa kebebasan, ekspresif, modern, teknologis, hedonis, konsumeristik dan metropolis yang menjanjikan segala bentuk kegembiraan sesaat.
- faktor-faktor yang mempengaruhi generasi muda untuk melakukan clubbing adalah faktor intern dan ekstern. Faktor intern yang berasal dari individu berhubungan dengan minat, motivasi, dan sikap (untuk hidup funcy dan happy). Adapun faktor ekstern berasal dari lingkungan keluarga dan lingkungan sosial (berhubungan dengan pergaulan individu).
3.2 Saran
Setiap orang pasti ingin mencoba hal-hal yang baru tetapi kita harus bisa memilih-milih mana yang sesuai dengan kebudayaan kita atau tidak agar kita tidak terjebak dalam pergaulan yang salah.
Setiap orang pasti ingin mencoba hal-hal yang baru tetapi kita harus bisa memilih-milih mana yang sesuai dengan kebudayaan kita atau tidak agar kita tidak terjebak dalam pergaulan yang salah.
DAFTAR PUSTAKA
Perdana, D. 2004. Dugem:Ekspresi
Cinta, Seks, dan Jati diri.Yogyakarta :Diva Press
Piliang, Y.A.2005. Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. Yogyakarta : Jalasutra.
Piliang, Y.A.2005. Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. Yogyakarta : Jalasutra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar